Person Centered Therapy (Carl Rogers)

Selasa, 02 April 2013


Person Centered Therapy ini dikembangkan oleh Carl Rogers. Terapi jenis ini merupakan hasil pandangan tradisional dari para terapis sebagai seorang ahli dan sebaliknya bergerak ke arah pendekatan non-directive yang diwujudkan ke dalam teori actualizing. teori actualizing mengatakan bahwa manusia memiliki potensi untuk menemukan kemampuan realisasi. metode dari terapi ini berasal dari keyakinan bahwa setiap manusia berusaha menemukan diri mereka sendiri dan semua yang telah terpenuhi atau potensi diri. Carl Rogers mengatakan, "individu memiliki sumber daya besar dalam diri mereka untuk self-understanding dan mengubah self-concepts mereka, sikap, dasar, self-directed. sumber daya ini dapat diperoleh jika sebuah keadaan yang ditentukan oleh fasilitas sikap psikologis yang disediakan. (dari Carl Rogers. Way of being. Boston. Houghton Mifflin. 1980, p. 115-117).

Teori Rogerian dalam psikoterapi Rogerian psikologi, dikenal sebagai Person Centered Therapy. Teori ini berdasarkan teori Carl Rogers. Rogers percaya bahwa semua orang pada dasarnya baik dan ingin mencapai  kesehatan mental. Dia membuat teori bahwa setiap orang termotivasi oleh aktualisasi, yaitu kekuatan yang membuat kita untuk mencapai potensi secara maksimal. Fisik, rohani, dan emosional. Inilah yang mendasari kekuatan dibalik semua tindakan dan reaksi kami. 
           
Rogers membuat teori bahwa ketika seseorang menekan aktualisasinya, mereka menyadari ada suatu emosional dan penderitaan.  Dan potensi tidak tumbuh sepenuhnya. tetapi karena setiap manusia memiliki kecenderungan untuk mencapai kesehatan mental dan mampu melakukannya. Kita memilih untuk bertindak dan bertingkah laku yang mengakibatkan pertumbuhan dan kesejahteraan. Terapi Person Centered ini bergantung pada klien untuk menjadi katalis untuk penyembuhan. Rogers percaya bahwa kita mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan diri sendiri. 

Ada 6 faktor yang diperlukan untuk pertumbuhan dalam teori Rogers : Enam faktor kunci yang merangsang pertumbuhan dalam individu. Dia menyarankan agar ketika persyaratan ini terpenuhi, orang akan tertarik ke arah pemenuhan potensi. 

* Terapi klien-kontak psikologis yaitu harus ada hubungan yang berbeda dan dikenali antara
 terapis dan klien. dan itu harus divalidasi oleh kedua belah pihak. 
* Kerentanan yaitu klien rentan terhadap ketakutan dan kecemasan yang menghalangi mereka
 meninggalkan sebuah hubungan atau situasi dan adanya bukti antara apa yang klien sadari
 dan pengalamannya. 
* Terapi Harmoni atau keaslian yaitu bahwa terapis diinvestasikan dalam hubungan dengan
 klien untuk tujuan penyembuhan. Terapis benar-benar tertarik dalam pemulihan mereka dan mengakses pengalaman mereka sendiri.
* Positif Terapi tanpa syarat (UPR) yaitu dengan menyediakan platform dari keterbukaan dan
 penerimaan. Klien dapat mudah untuk menghilangkan persepsi miring tentang dirinya
 sendiri. 
* Terapi Pemahaman Empati yaitu berkenaan dengan internal dan membangun  persepsi.
 Perasaan empati ini membantu memperkuat perasaan cinta tanpa syarat. 
* Persepsi Klien yaitu persepsi hal positif tanpa syarat dan pemahaman yang dirasakan oleh
 klien, bahkan walau sedikit



















Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Terapi Humanistik Eksistensial

Sabtu, 30 Maret 2013


Psikologi Eksistensial atau sekarang berkembang dengan nama psikologi Humanistik atau psikologi holistic berawal dari kajian filsafat yang diawali dari Sorean Kierkigard tentang eksistensi manusia. Sebelum psikologi modern membuka dirinya pada pemikiran (school of thought) berbasis emosi dan spiritual yang transenden, psikologi terlebih dahulu dipengaruhi oleh ide-ide humanistik. Psikologi humanistik berpusat pada diri, holistik, terobsesi pada aktualisasi diri, serta mengajarkan optimisme mengenai kekuatan manusia untuk mengubah diri mereka sendiri dan masyarakat. Terdapat gerakkan eksistensialisme pada abad 19 yang dikemukakan oleh seorang filsuf bernama Søren Kierkegaard. Dalil utama dari eksistensialisme adalah keberadaan (existence) individual manusia yang dialami secara subjektif. Istilah eksistensi berasal dari akar kata ex-sistere, yang secara literal berarti bergerak atau tumbuh ke luar. Dengan istilah ini hendak dikatakan oleh para eksistensialis bahwa eksistensi manusia seharusnya dipahami bukan sebagai kumpulan substansi-substansi, mekanisme-mekanisme, atau pola-pola statis, melainkan sebagai “gerak” atau “menjadi”, sebagai sesuatu yang “mengada”.
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang bersaha memahami kondisi manusia sebagaimana memanifestasikan dirinya di dalam situasi-situasi kongkret. Kondisi manusia yang dimaksud bukanlah hanya berupa ciri-ciri fisiknya (misalnya tubuh dan tempat tinggalnya), tetapi juga seluruh momen yang hadir pada saat itu (misalnya perasaan senangnya, kecemasannya, kegelapannya, dan lainnya). Manusia eksistensial lebih sekedar manusia alam (suatu organisme/alam, objek) seperti pandangan behaviorisme, akan tetapi manusia sebagai “subjek” serta manusia dipandang sebagai satu kesatuan yang menyeluruh, yakni sebagai kesatuan individu dan dunianya. Manusia tidak dapat dipisahkan sebagai manusia individu yang hidup sendiri tetapi merupakan satu kesatuan dengan lingkungan dan habitatnya secara keseluruhan. Manusia (individu) tidak mempunyai eksistensi yang dipisahkan dari dunianya dan dunia tidak mungkin ada tanpa ada individu yang memaknakannya. Individu dan dunia saling menciptakan atau mengkonstitusikan (co-constitute). Dikatakan saling menciptakan (co-constitutionality), karena musia dengan dunianya memang tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya. Tidak ada dunia tanpa ada individu, dan tidak ada individu tanpa ada dunia. Individu selalu kontekstual, oleh karena sebab itu tidak mungkin bisa memahami manusia tanpa memahami dunia tempat eksistensi manusia, melalui dunianyalah maka makna eksistensi tampak bagi dirinya dan orang lain. Sebaliknya individu memberi makna pada dunianya, tanpa diberi makna oleh individu maka dunia tidak ada sebagai dunia.
Psikologi eksistensial adalah ilmu pengetahuan empiris tentang eksistensi manusia yang menggunakan metode analisis fenomenologis. psikologi eksistensial bertentangan dengan pemakaian konsep kausalitas yang berasal dari ilmu-ilmu pengetahuan alam dalam psikologi.
Salah satu tokoh pendekatan teori Humanistik adalah Carl Rogers yang terkenal dengan metode terapi yang bernama “Client Centered/Person Centered Psychotherapy”. Teori Rogers yang dinamakan juga teori fenomenologis atau teori “Self”, memiliki pendekatan yang humanistis dan bertentangan dengan teori psikoanalisis Freud yang dianggap terlalu merendahkan harkat manusia. Freud menganggap manusia sangat dikuasai oleh insting seks. Alasan lainnya adalah bahwa Freud menegakkan suatu teori atas dasar penelitian terhadap kasus abnormal.
Terapi Humanistik merupakan suatu penekanan keunikan setiap individu serta memusatkan perhatian pada kecenderungan alami dalam pertumbuhan dan perwujudan terhadap dirinya. Dalam terapi ini para ahli tidak mencoba menafsirkan perilaku penderita, tetapi bertujuan untuk memperlancar kajian pikiran dan perasaan seseorang dan membuatnya memecahkan masalahnya sendiri.  Terapi humanistik eksistensial memusatkan pada pengalaman-pengalaman sadar, memusatkan perhatian pada apa yang dialami pasien pada masa sekarang “disini dan kini”, bukan pada masa lampau. Teori ini juga mempengaruhi tingkah laku dan perasaan-perasaan individu sekarang, dan kedua-duanya juga berusaha memperluas pemahaman diri dan kesadaran diri pasien. Teori humanistik eksistensial sebenarnya tidak memilki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur konseling bisa dipungut dari beberapa teori konseling lainnya seperti teori dari Gestalt dan Analisis Transaksional. Tugas konselor disini adalah menyadarkan konseling bahwa ia masih ada didunia ini dan hidupnya dapat bermakna apabila ia memaknainya.

Sumber           :

Prabowo, Hendro & Riyanti, Dwi B.P. (1998). Psikologi umum 2. Jakarta: Universitas Gunadarma
Ardani, T.A, (2010). Psikologi Abnormal. Bandung:LUBUK AGUNG

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Terapi Psikoanalisa

Sabtu, 23 Maret 2013


          Terapi Psikoanalisis adalah suatu terapi yang diciptakan dan dikembangkan oleh Sigmund Freud (6 Mei 1856- 23 September 1939), dan para pengikutnya sebagai studi fungsi dan perilaku manusia. Menurut teorinya, kepribadian manusia di interpretasikan sebagai suatu struktur yang terdiri dari 3 bagian penting, yaitu Id, Ego dan Superego. Dari ketiga bagian atau sistem tersebut mempunyai fungsi sebagai kelengkapan, prinsip-prinsip operasi, dinamisme dan mekanismenya masing-masing. Akan tetapi, antara ketiga sistem tersebut saling berhubungan dan berkaitan serta membentuk suatu totalitas. Satu hal yang penting dari teori ini adalahh bahwa tingkah laku manusia merupakan perwujudan produk interaksi (hubungan) antara Id, Ego dan Superego. Menurut Freud, esensi pribadi seseorang bukan terletak pada apa yang ia tampilkan secara sadar, melainkan apa yang tersembunyi dalam ketidaksadarannya.

Penerapan Psikoanalisa dalam Psikoterapi
            Penggunaan terapi pada Psikoanalisa dilakukan degnan cara membawa pasien untuk mau menghadapi masalah-masalahnya, bagaimana mengatasi masalah tersebut dan kemudian menjalani hidupnya dengan disertai kesadaran yang lebih besar atas motif-motif yang sesungguhnya ada pada dirinya (memperkuat ego).

Terapi Psikoanalisa ;

Asosiasi Bebas. Terapi ini menganggap bahwa satu ketertarikan suatu hubungan persekutuan pada beberapa masalah akan mengarah pada hal-hal lain yang terdapat jauh di alam tak sadar. Dengan menggunakan asosiasi bebas, pasien diperintahkan untuk santai. Oleh karena keadaan yang santai tersebut memungkinkan pasien memunculkan hal-hal yang ditekan/ditahan oleh pasien secara perlahan dan memungkinkan penggunaan energi psikis lebih banyak untuk tujuan penyesuaian. Sehingga dimungkinkan dalam kondisi ini dapat dipahami dengan jelaas konflik-konflik yagn bersifat tak sadar dan juga penyebab yang berasal dalam diri pasien.

Analisis Mimpi. Dalam analsis mimpi ini, mimpi dipandang sebagai jalan utama menuju kealam tek sadar. Karena mimpi juga diartikan sebagai pemuasan yang melambangkan dari keinginan-keinginan dan sebagian besar intinya mencerminkan pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak awal. Dengan metode penafsiran mimpi yang disertai analisis/ makna-makna yang masih samar dari simbol-simbol mimpi dapat memperbesar pemahaman terhadap pasien atas penyebab dari gejala/ konflik yang bersifat mendorong (motivasional) yang dialami klien.

Analisis Transferensi. Transferensi merupakan cara kerja dari pertahan ego dimana impuls yang bersifat tak sadar dialihkan dari objek yang satu ke yang lainnya. Transferensi ini merefleksikan kebutuhan pasien akan objek cinta dengan maksud agar perasaan cinta atau benci yang ditekan/ ditahan oleh pasien dapat diungkapkan dan seseorang yang menerapinya sering dijadikan objek pengganti. Menurut Freud setelah pasien mengetahui arti sesungguhnya dari hubungan transferensi dengan terapisnya, pasien akan memperoleh pemahaman atas pengalaman dan perasaan masa lalunya, serta menghubungkan pengalam-pengalaman tersebut dengan kesulitan yang dialaminya sekarang.

Reedukasi. Suatu upaya mendorong pasien agar memperoleh pemahaman baru atas kehidupan yang dijalaninya dengan cara yang konkret dalam menyusun kembali perasaan dan tingkah lakunya.

Keefektifan dari terapi ini adalah bahwa dapat dipahami secara jelas konflik-konflik yang bersifat tak sadar dan berbagai penyebab dari dalam diri pasien, dapat membantu seorang penerapi untuk mendapatkan pemahaman atas cara-cara pasien dalam mengamati, merasakan dan bereaksi terhadap figur orang-orang yang berarti pada awal kehidupannya.

Kelebihan
·         Terapis bisa lebih mudah untuk mengetahui masalah-masalah yang ada pada klien karena prosesnya menggali masa lalu yang pernah dialami klien.
·         Memiliki dasar teori yang kuat
·         Membuat klien menyadari penyebab dari setiap masalah yang selama ini tidak disadarinya
Kekurangan
·         Memakan banyak biaya bagi klien
·         Membutuhkan waktu yang lama untuk terapi
·         Dapat menyebabkan kejenuhan pd klien jika waktu terapi terlalu lama

Sumber : Ardani, T.A, (2010). Psikologi Abnormal. Bandung:LUBUK AGUNG

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Akulturasi Psikologis

Senin, 07 Januari 2013


Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Contoh akulturasi: Saat budaya rap dari negara asing digabungkan dengan bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa Jawa. Ini terjadi di acara Simfoni Semesta Raya.

Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan yang memelajari mengenai perilaku dan kognisi manusia. Menurut asal katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa) dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.


Jadi, jika disimpulkan, akulturasi psikologis adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan perilaku tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu perilaku asing. Perilaku asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam perilakunya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur periaku kelompok sendiri. Singkatnya terdapat perpaduan antara perilaku sendiri dengan perilaku asing, tanpa menghilangkan unsur perilaku kelompok sendiri.

Faktor-faktor yang mempengaruhi akulturasi
Terjadinya akulturasi adalah perubahan sosial budaya dan struktur sosial serta pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan.

Secara garis besar, ada dua faktor yang menyebabkan akulturasi dapat terjadi, yaitu:

Faktor Intern

  • Bertambah dan berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi) 
  • Adanya penemuan baru. Discovery --- penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada. Invention --- penyempurnaan penemuan baru. Innovation --- pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada. Penemuan baru didorong oleh kesadaran masyarakat akan kekurangan unsur dalam kehidupannya, kualitas ahli atau anggota masyarakat.
  • Konflik yang terjadi dalam masyarakat.
  • Pemberontakan atau revolusi.
 Faktor Ekstern 
  • Perubahan alam
  • Peperangan 
  • Pengaruh kebudayaan lain melalui difusi (penyebaran kebudayaan), akulturasi (pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi (pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi).
Faktor-faktor yang memperkuat potensi akulturasi dalam taraf individu adalah faktor-faktor kepribadian seperti toleransi, kesamaan nilai, mau mengambil resiko, keluesan kognitif, keterbukaan dan sebagainya. Dua budaya yang mempunyai nilai-nilai yang sama akan lebih mudah mengalami akulturasi dibandingkan dengan budaya yang berbeda nilai.

Jadi, akulturasi psikologis adalah proses sosial yang timbul pada psikologis seseorang atau kelompok, seperti saat seseorang mendiami suatu tempat dengan kebudayaan yang berbeda dari dirinya. Pola berpikir atau sifatnya sedikit demi sedikit berubah namun tidak seutuhnya menjadi seperti orang-orang yang asli dari tempat tersebut.



Sumber   :

http://www.psychologymania.com/2012/06/faktor-yang-mempengaruhi-akulturasi.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi
http://mitasangkodok.blogspot.com/


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

multikulturalisme


MULTIKULTURALISME


Multikulturalisme
 adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.

Pengertian multikulturalisme menurut beberapa ahli


·                     “Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007).
·                     Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (“A Multicultural society, then is one that includes several cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception of the world, system of [meaning, values, forms of social organizations, historis, customs and practices”; Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007).
·                     Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip Lubis, 2006:174).
·                     Sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Suparlan, 2002, merangkum Fay 2006, Jari dan Jary 1991, Watson 2000).
·                     Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho’ Muzhar).
Jenis Multikulturalisme == Berbagai== macam pengertian dan kecenderungan perkembangan konsep serta praktik multikulturalisme yang diungkapkan oleh para ahli, membuat seorang tokoh bernama Parekh (1997:183-185) membedakan lima macam multikulturalisme (Azra, 2007, meringkas uraian Parekh):
1.            Multikulturalisme isolasionis, mengacu pada masyarakat dimana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.
2.            Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan meraka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di beberapa negara Eropa.
3.            Multikulturalisme otonomis, masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kutural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Perhatian pokok-pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra sejajar.
4.            Multikulturalisme kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (concern) dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka.
5.            Multikulturalisme kosmopolitan, berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing.

Sumber   :

http://id.wikipedia.org/wiki/Multikulturalisme


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Akulturasi dan Relasi Internakultural

Senin, 05 November 2012

Pengertian AkulturasiAkulturasi merupakan suatu proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayan asing itu lambat laun dapat diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kebudayaan itu sendiri.

Sebagai contoh, masyarakat pendatang berkomunikasi dengan masyarakat setempat dalam acara syukuran, secara tidak langsung masyarakat pendatang berkomunikasi berdasarkan kebudayaan tertentu milik mereka untuk menjalin kerja sama atau mempengaruhi kebudayaan setempat tanpa menghilangkan kebudayaan setempat.
Apabila diperhatikan prosesnya akulturasi terjadi dalam dua cara, yaitu:
  1. Akulturasi damai (penetration pasifique), terjadi jika unsur-unsur kebudayaan asing dibawa secara damai tanpa paksaan dan disambut baik oleh masyarakat kebudayaan penerima.
  2. Akulturasi ekstrim, terjadi dengan kekerasan, perang, penaklukkan, akibatnya unsur-unsur kebudayaan asing dari pihak yang menang dipaksakan untuk diterima di tengah-tengah masyarakat yang dikalahkan.

Relasi Internakultural

Relasi Internakultural adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Menurut Stewart L. Tubbs, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras,etnis, atau perbedaan-perbedaan sosio ekonomi).Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.
Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.

Jadi, akulturasi dan relasi internakultural saling mempengaruhi karena dengan akulturasi seseorang dapat mengetahui kebudayaan asing yang ada sedangkan relasi internakultural merupakan komunikasi antar budaya  yang hidup didalam nya masyarakat yang berbeda ras,suku,etnis dll. Yang menjadikan budaya semakin beragam adalah karena manusia hidup dengan diturunkannya warisan budaya dari generasi terdahulu sampai generasi selanjutnya. Dari teori psikologi sendiri hal kebudayaan berpengaruh melalui suatu proses pengkondisan dalam hal ini akulturasi dan relasi internakultural terjadi melalui proses pengkondisian yang terjadi dengan adanya stimulus dan respon yang merangkai menjadi suatu kompleks perilaku. Dengan akulturasi seseorang belajar untuk mengkondisikan bagaimana pengaruh asing mempengaruhi kebudayaan pribumi dan relasi internakultural terjadi dengan adanya pengkondisian komunikasi antar budaya yang membuat manusia saling berinterkasi dengan budaya yang bermacam-macam di dunia ini.

http://www.pengertiandefinisi.com/2011/05/pengertian-akulturasi.html


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Transmisi Budaya dan Biologis serta Masa Perkembangan dan Pola Kelekatan

Senin, 15 Oktober 2012

TRANSMISI BUDAYA DAN BIOLOGIS

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan di wariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, bahasa, adat istiadat, pakaian, bangunan, dan karya seni. Sebagai mana juga budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, telah membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Transmisi Budaya merupakan kegiatan menyampaukan dan memberikan pesan, dari generasi ke generasi, individu dan antar masyarakat atau masyarakat dalam masyarakat dalam suatu budaya yang jelas yang mempunyai suatu pola kebiasaan dan sulit untuk diubah.


BENTUK TRANSMISI BUDAYA

Enkulturasi atau pembudayaan adalah proses mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran dan sikap individu dengan sistem norma, adat, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses ini berlangsung sejak kecil, mulai dari lingkungan kecil (keluarga) ke lingkungan yang lebih besar (masyarakat). Misalnya anak kecil menyesuaikan diri dengan waktu makan dan waktu minum secara teratur, mengenal ibu, ayah, dan anggota-anggota keluarganya, adat, dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam keluarganya, dan seterusnya sampai ke hal-hal di luar lingkup keluarga seperti norma, adat istiadat, serta hasil-hasil budaya masyarakat.
Sosialisasi adalah proses pemasyarakatan, yaitu seluruh proses apabila seorang individu dari masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu-individu lain dalam masyarakat. Menurut Soerjono Soekanto, sosialisasi adalah suatu proses di mana anggota masyarakat baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di mana ia menjadi anggota.
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. 

PENGARUH TERHADAP PERKEMBANGAN PSIKOLOGI DAN INDIVIDU

Pengaruh Enkulturasi terhadap perkembangan psikologi individu. 
Enkulturasi mempengaruhi perkembangan psikologi individu melalui proses belajar dan penyesuaian alam pikiran dan sikap individu dengan sistem norma, adat, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Enkulturasi terjadi karena lingkungan yang menerapkan aturan-aturan tersebut. Sehingga individu itu sendiri menyesuaikan. 
Pengaruh Akulturasi terhadap perkembangan psikologi individu 
Akulturasi mempengaruhi perkembangan psikologi individu melalui suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Akulturasi terjadi karena sekelompok orang asing yang berangsur-angsur mengikuti cara atau peraturan di dalam lingkup orang Indonesia. 
Pengaruh Sosialisasi terhadap perkembangan psikologi individu 
Beberapa teori perkembangan manusia telah mengungkapkan bahwa manusia telah tumbuh dan berkembang dari masa bayi kemasa dewasa melalui beberapa langkah jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangnya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang yang secara aktif melakukan proses sosialisasi. 

AWAL PERKEMBANGAN DAN PENGASUHAN

Transmisi Budaya akan terjadi pada awal pengembangan dan pengasuhan yang terjadi pada masing-masing individu. Dimana proses terjadi seperti enkulturasi, akulturasi dan sosialisasi yang memengaruhi perkembangan psikologis individu tergantung pada pengembangan dan pengasuhan dalam lingkungan yang diterimanya. Individu tidak dapat berdiri sendiri, melainkan hidup dalam hubungan antara individu-individu lainnya. Dengan demikian, didalam hidup dan kehidupan individu harus mempunyai kontak sosial dengan individu lainnya, karena itu manusia juga merupakan makhluk sosial.

Kesamaan dan Perbedaan Antar budaya dalam Hal Transmisi Budaya melalui awal masa perkembangan dan pola kelekatan (attachment) pada ibu atau pengasuh

Awal Perkembangan dan Pengasuhan Transmisi budaya dapat terjadi sesuai dengan awal pengembangan dan pengasuhan yang terjadi pada masing-masing individu. Dimana proses seperti enkulturasi, sosialisasi ataupun akulturasi yang mempengaruhi perkembangan psikologis individu tergantung bagaimana individu mendapat pengasuhan dan bagaimana lingkungan yang diterimanya.
Jika seorang anak sedari dini lebih banyak menghabiskan waktunya bersama pengasuh, maka kelekatan antara seorang anak dan ibu akan kurang daripada bersama pengasuhnya. Karena pengaruh sosialisasi, akulturasi, dan enkulturasi terjadi di masyarakat, membuat setiap orang berusaha untuk mengetahui hal tersebut. Sehingga pola perilaku individu mengalami proses belajar dalam kesehariannya melalui sosialisasi terhadap lingkungan yang mempengaruhinya. Maka terjadilah kesamaan dan perbedaan antar budaya dalam mempengarahui pola perkembangan seorang anak.

sumber : http://divaangreyani.blogspot.com/2012/10/transmisi-budaya-dan-biologis-serta.html
     id.wikipedia.org/wiki/Budaya


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO